Bersyukurlah untuk orang-orang Taurus yang saat


download 42.39 Kb.
jenengBersyukurlah untuk orang-orang Taurus yang saat
KoleksiDokumen
c.kabeh-ngerti.com > Sastra > Dokumen
610> MAIN PAGE

Ekonomi

Metropolitan

Gayahidup

Kesehatan

Teknologi

Internasional

Olah Raga
SPECIAL OFFER

Free E-mail

Chat

Ad Info

About Us

Contact Us
Berlaku 1 Mei - 4 Mei 2003

.Zodiak

Bintang Minggu Ini

Taurus, 20 Arpril - 20 Mei

Bersyukurlah untuk orang-orang Taurus yang saat

ini mulai luber rejeki. --
Aries

Taurus

Gemini

Cancer

Leo

Virgo

Libra

Scorpio

Sagitarius

Capricorn

Aquarius

Pisces

Kembali
Pengasuh:Luluk sri Rahayu

Ramalan Bintang Anda Minggu Ini

TAURUS, 20 April - 20 Mei
Bersyukurlah untuk orang-orang Taurus yang saat

ini mulai luber rejeki. Tapi jangan terus serakah

dan jangan terus bermain spekulasi. Pekerjaan Anda

yang mulai membaik ini harus benar-benar dijaga

agar tidak ada kesalahpahaman. Memang sih, ada

yang mulai iri dan kasak-kusuk dengan segala cara.

Tapi tak perlu takut selama Anda ada pada jalan

kebenaran, pastilah rintangan-rintangan itu akan

pergi dengan sendirinya.

Rezeki: kanan kiri ok.

Asmara: rindu yang penuh beban.

Free E-Mail | Chat | Tajuk Kompas | Surat Pembaca | Ad Info | About Us |

Contact Us

Design by Kompas Cyber Media

Copyright © 2001 Kompas Cyber Media. All right reserved. Privacy policy

menjadi "Ratu Ilmu Pengetahuan" yang membimbing manusia melakukan kontak dengan

komponen-komponen baru kode kosmik-hukum semesta yang baka-yang memprogramkan

perkembangan evolusi manusia. Dari sana pengetahuan ilmiah menjadi kompleks

gagasan dengan implikasi praktis yang belum ada padanannya dalam sejarah. Ilmu

sendiri, tampak kian terjamin kekuatan dan jangkauannya untuk membentuk nasib

sosial politik peradaban kita, lebih dari keadaannya di masa silam ketika

Descartes mulai merumuskan pikirannya.

Dengan berbagai suksesnya yang mengesankan, matematika ternyata tak dapat

menunjukkan kedaulatannya di semua bidang. Infrastruktur dasar pengetahuan

ilmiah ini tampak kehilangan keampuhan di depan gejala-gejala kompleks yang

muncul sejak dari formasi galaksi, sampai ke pembentukan otak manusia.

Ringkasnya, di mana khaos dan kompleksitas muncul, di sana matematika dan

pengetahuan ilmiah klasik mentok.

Dunia natural dan artifisial memang disesaki oleh banyak sekali fenomena dengan

kompleksitas tinggi. Riset-riset ilmiah di bidang fisika, biologi, meteorologi

dan banyak bidang lain menunjukkan betapa unsur dasar sistem-sistem kompleks itu

memang sederhana. Para pakar pun bergulat mengurai mekanisme matematis yang

dengannya sejumlah besar unsur sederhana, jika bekerja bersama, dapat

menghasilkan perubahan dengan tingkat kerumitan yang melumpuhkan. Bagi para

saintis kompleksitas itu, ada sebuah mimpi yang menghantui: satu rumusan

matematis dari sebuah hukum universal yang menjelaskan seluruh kompleksitas

tersebut. Sejauh ini, mimpi tersebut belum terwujud dan kesadaran orang pada

keterbatasan matematis semakin menguat.

Jauh sebelum para pakar ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam, khususnya biologi,

meributkan batas-batas kedaulatan matematika, para matematikawan sendiri sudah

menyadarinya. Kesadaran akan batas itu tampaknya dimulai oleh Kurt Godel. Kelak,

matematikawan seperti Morris Kline menunjukkan bahwa desain matematis tampaknya

memang tak bersifat inheren dalam alam. Atau, jika memang inheren, maka

matematika yang dibangun manusia tampaknya tak berkaitan dengan desain alam.

Inilah yang menjadi malapetaka pertama bagi "keruntuhan" matematika.

Yang menarik dari Wolfram bukan hanya bahwa ia sudah menunjukkan kegeniusan

sejak masih sangat muda-ia menerbitkan tulisan ilmiahnya yang pertama pada usia

15, dan dianugerahi gelar doktor dalam fisika pada usia 20. Yang lebih menarik

adalah bahwa buku yang ia tulis mencoba menunjukkan cara lain memahami

kenyataan. Ia mencoba menyodorkan satu pendekatan atas kenyataan-kenyataan

kompleks dengan cara yang mengatasi persamaan matematika. Bagi Wolfram, ada yang

lebih mendasar sebagai model realitas kompleks, dan itu bukan matematika, tetapi

adalah komputasi, lebih tepatnya: cellular automata.

CA Satu Dimensi

Dalam kasus yang paling sederhana, sebuah cellular automata (CA) adalah sebuah

perintah program komputasi yang terdiri dari satu baris situs, di mana tiap

situs membawa sebuah nilai 0 atau 1. Dengan demikian, konfigurasi sebuah sistem

kompleks sesungguhnya merupakan sekuensi dari nilai nol atau satu. Sistem-sistem

itu tumbuh dan berevolusi dalam satu seri langkah tertentu. Pada setiap langkah,

nilai dari setiap situs diperbaharui menurut satu aturan.

Untuk setiap transformasi, nilai setiap situs tergantung hanya pada nilai situs

yang mendahuluinya, dan nilai situs di kanan kirinya. Karena itu ada delapan

keadaan input yang mungkin, yakni delapan kombinasi dari tiga posisi tetangga

dengan hanya dua nilai. Setiap aturan algoritmik merepresentasikan semua

kombinasi dari ke-8 keadaan input. Dengan demikian ada 2 exp 8 = 256 aturan yang

mungkin muncul dari CA satu dimensi dan dua nilai saja. Beberapa di antara

aturan ini bisa menghasilkan pola-pola yang sangat kompleks, dengan kondisi awal

yang sangat sederhana.

Bagi Wolfram, penemuan ini mampu membuka wawasan ke dalam perilaku sistem-sistem

kompleks. Tidak aneh kalau ia sempat berkata bahwa jauh lebih praktis

mempelajari CA yang sederhana itu ketimbang aljabar dan kalkulus yang rumit dan

terbukti mentok menghadapi banyak gejala-gejala kompleks. CA sendiri memang

lebih sederhana ketimbang matematika modern, sehingga semestinya CA lebih dahulu

ditemukan oleh manusia, dan lebih dahulu diajarkan. Ringkasnya, mengikuti

penalaran seperti ini, orang bisa setuju bahwa upaya manusia selama ratusan

tahun membangun pengetahuan ilmiah di atas infrastruktur matematika, merupakan

upaya yang mubazir.

Yang jelas, pengetahuan teoretik dan sistematis tentang CA takkan mungkin

diperoleh tanpa matematika. CA punya akar yang menghujam cukup dalam pada

khazanah pengetahuan ilmiah, khususnya logika matematika. Di awal abad 20, Kurt

Godel mengubah logika matematika ke teori komputasi dengan menunjukkan bahwa

pengertian fundamental logika matematika secara esensial berwatak rekursif.

Fungsi-fungsi rekursif adalah fungsi yang bisa dikerjakan oleh mesin Turing

universal, yakni mesin yang dapat memecahkan problem-problem matematis dengan

satu set aturan logis.

Gagasan Godel ini dikembangkan lebih jauh oleh John von Neumann untuk membangun

teori logis automata. Karya Neumann itu meletakkan batu fondasi yang kuat bagi

pengembangan Artificial Life. Tak kalah penting tentu saja adalah karya Alan

Turing, sang peletak dasar Artificial Intelligent, yang membuka jalan bagi

simulasi automata di komputer. Kelak John Conway menerapkan CA untuk membangun

Game of Life, sebuah program komputer yang meniru perilaku organisme hidup.

Wolfram sendiri menggarap varian satu dimensi CA yang dibuat oleh von Neumann.

CA jenis inilah yang merupakan program sederhana yang terdiri dari satu baris

perintah saja.

Problem teoritis terbesar Wolfram dan CA terletak pada tiadanya kemampuan

prediktif, apalagi terhadap sistem besar dan kompleks seperti alam semesta.

Mekanika Kuantum juga tak punya daya prediktif seperti yang diidealkan

Descartes. Karena mustahilnya mengukur kecepatan dan momentum sebuah partikel

dengan akurat secara bersamaan, Mekanika Kuantum hanya bisa memberi prediksi

yang sifatnya probabilistik. Namun dengan probabilitas statistik ini Mekanika

Kuantum dan turunannya, khususnya Teori Standar Fisika Partikel, sejauh ini

telah menjadi teori dengan daya prediktif dan tingkat akurasi yang belum ada

tandingannya dalam sejarah.

Jika Wolfram atau ilmuwan manapun bisa menghasilkan Teori Komputasi yang punya

kemampuan prediktif, yang sanggup meramalkan kejadian dan mencegat masa depan

dengan berbagai kebolehjadiannya, maka itu baru layak disebut sebagai kejadian

akbar dalam sejarah pengetahuan teoretis. Kerja besar Wolfram kali ini, lebih

mirip dengan kerja para penemu yang menginventarisir dan mentaksanomikan

hal-ihwal. Dari bahan-bahan temuan inilah biasanya pemikir besar menyusun

teorinya yang mengubah padangan manusia dan sejarahnya. Ringkasnya, karya

Wolfram, seperti kata Ray Kurzweil, baru merupakan satu sumbangan penting

terhadap fisika, dan metafisika, khususnya ontologi. Ontologi, kita tahu adalah

ilmu tentang Ada (Being), sejauh ada; atau refleksi tentang hakikat kenyataan

yang paling dasar.

Ontologi ruang waktu

Setelah menikmati masa hidupnya selama sekitar seribu tahun, ontologi boleh

dikata memang mengalami perkembangan baru setelah melewati satu periode

penampikan. Periode itu yang disebabkan oleh oposisi yang luas terhadap

metafisika, terkenal dengan pengumuman "kematian metafisika". Kini kian bisa

diterima bahwa ilmu-ilmu alam memiliki skema ontologis. Selain belum dapat

sepenuhnya dijustifikasi menurut dasar-dasar empiris murni, skema ontologis itu

juga dapat menimbulkan kebingungan teoritis, seperti yang terjadi pada bidang

mekanika kuantum yang terus bertengkar soal dualitas gelombang-partikel.

Persoalan baru terus berlanjut seiring dengan kian majunya teori kuantum dan

turunannya mengekplorasi hakikat terdalam realitas. Persoalan ontologis terbaru

masih berkaitan dengan building-block terkecil yang menyusun seluruh alam

semesta seisinya ini. Salah satu usulan mutakhir yang berkaitan dengan subyek

ini datang dari teori "Superstring". Inti pandangan Superstring adalah bahwa

penyusun dasar semesta ini bukanlah particle-like entity seperti yang diyakini

orang sejak hampir 1500 tahun. Penyusun dasar kenyataan kosmos ini adalah

semacam senar gitar yang dengan berbagai jenis getarnya memungkinkan munculnya

berbagai jenis alam semesta. Dikiaskan secara sangat sederhana, alam semesta ini

bukanlah seperti sebuah rumah besar yang tertata dari ribuan bata, bukan seperti

benda permanen yang disusun dari tak terhingga dzarrah, tapi lebih mirip seperti

sejenis musik yang terdiri dari berbagai macam nada.

Seperti halnya teori Superstring, teori komputasi CA juga mengimplikasikan bahwa

penyusun paling dasar dari kenyataan semesta bukanlah particle-like entity.

Dalam hal ini, Wolfram memberi sumbangan penting pada "gerakan intelektual" yang

menyuarakan pandangan bahwa bentuk-bentuk informasi, dan bukannya materi atau

energi, yang lebih merupakan batu penyusun dasar dari seluruh kenyataan. Gerakan

intelektual ini mencoba memberi penjelasan baru tentang bagaimana bentuk-bentuk

atau pola-pola informasi menciptakan dunia yang kita alami. Selain membangun

visi yang lebih kokoh tentang peranan algoritme yang sangat penting di alam

semesta ini, gerakan ini juga mencoba mengoreksi padangan klasik Newtonian

tentang ruang waktu yang terpisah, kontinu, infinit dan absolut.

Bahwa informasi adalah "satuan" yang paling dasar di alam semesta ini-pengertian

ini jelas sudah cukup tua dalam sejarah pengetahuan manusia. Ini terlihat

misalnya pada kalimat pembuka Bibel, "Pada mulanya adalah kata", atau pada ayat

pertama Qur'an, "Bacalah". Namun demikian, pada kedua kanon besar itu, informasi

sebagai inti kosmos lebih bersifat pengertian intuitif yang tak dapat dibuktikan

salah. Apa yang dikerjakan Wolfram, John Wheeler dengan "It from Bit"; Edward

Fredkin dengan "Digital Universe"; serta sejumlah pemikir lain, semuanya

dibangun secara sistematis dengan teori-teori yang bisa difalsifikasi.

Algoritme tentu saja berasal dari nama Abu Ja'far Muhammad bin Al-Kwarizmi

(780-850 M), penulis kitab Al-Jabr Wal Muqabala (Aturan-aturan tentang Restorasi

dan Reduksi). Algoritme adalah metode atau prosedur yang terdefenisikan dengan

baik untuk memecahkan sebuah masalah, biasanya sebuah problem matematika, atau

yang berkaitan dengan manipulasi informasi. Secara khusus, sebuah algoritme

dideskripsikan sebagai satu seri tindakan yang harus dilaksanakan, ditambah

dengan petunjuk tentang kapan dan di mana seri tindakan itu harus diulang lagi.

Ada pakar yang membatasi algoritme hanya pada prosedur-prosedur yang akhirnya

selesai. Tapi ada juga pakar yang memasukkan prosedur-prosedur yang terus

berjalan tanpa henti.

Algoritme memang sering berwujud sebagai program-program komputer, tapi ia juga

bisa berwujud tindakan yang dilakukan oleh kehidupan yang tengah mencari

perfeksi dan terus berupaya mengatasi dirinya sendiri.

Sastra Larangan

Kehadiran algoritme ditemukan memang bukan hanya pada gejala-gejala alam yang

begitu kompleks dan menghipnotis. Ia juga bisa ditemui pada karya seni. Kelompok

yang secara sadar menggunakan algoritme bagi penciptaan adalah Oulipo (Ouvroir

de Litt_rature Potentielle, atau Workshop of Potential Literature). Di salah

satu situs Oulipo di internet, terpasang satu kutipan dari komposer besar Igor

Stravinsky: Kian banyak larangan yang dihadapi, kian tertantang dan bebas

seseorang dari rantai belenggu yang mencengkeram. Larangan dan hambatan berguna

untuk meraih ketepatan eksekusi.

Didirikan di Paris pada 24 November 1960, Oulipo terdiri dari sejumlah penulis

dan matematikawan. Pendirinya adalah Raymond Quenau dan Francois Le Lionnais,

dengan anggota antara lain Claude Berge, George Perec, Harry Matthews dan Italo

Calvino. Mereka berkumpul membentuk laboratorium struktur literer untuk

menghidupkan bentuk-bentuk sastra lama dan mencari bentuk-bentuk sastra baru

yang yang tumbuh dari sejumlah algoritme. Bukannya sekedar menerima pasif

kesalahan cetak pada puisi-puisi mereka yang kadang memang memberi kejutan

literer, laboratorium ini bergerak jauh dengan secara aktif menetapkan sejumlah

hambatan dan larangan dalam berkarya. Hambatan berupa algoritme itu, bisa cukup

kompleks, bisa juga sangat sederhana yang berwujud satu baris larangan saja.

Laboratorium Oulipo antara lain menghasilkan buku ganjil Queneau Cent Mille

Milliards de Po_mes (Seratus Milyar Puisi). Buku ini menyodorkan sepuluh soneta

yang masing-masing ke-14 larikmya ditaruh secara terpisah. Kombinasi dari 14

baris atas 10 soneta ini memang memungkinkan hadirnya 10 exp 14 (seratus milyar)

puisi yang berbeda dan mengejutkan. Karya Queneau yang lain adalah "Exercises de

Style", yang cerita sederhananya dikisahkan dalam 99 cara yang berbeda.

Kombinasi acak hanyalah satu di antara sekian algoritme yang diajukan kaum

Oulipian. Salah satu algoritme (biasa juga disebut prosedur) paling sederhana

yang digunakan kaum Oulipoan adalah S+7. Prosedur ini "memerintahkan" agar

setiap kata benda dari sebuah teks sastra, secara sistematis diganti dengan kata

benda lain urutan ke-7 dari kata benda awal dalam sebuah kamus yang dipilih.

Hasil prosedur ini seringkali sangat tak terduga. Algoritme lain, yang lebih

sulit, dijalankan misalnya oleh George Perec.

Perec adalah penulis dengan kecenderungan yang sedikit ganjil. Ia misalnya

tertarik pada palindrome, yakni susunan kata atau kalimat yang jika dieja dari

belakang tetap terbaca sama; Live Devil atau See, Slave, I demonstrate yet arts

no medieval sees. Konon Perec telah menciptakan palindrome terpanjang yang

pernah ditulis orang, terdiri dari sekitar 5000 kata. Contoh karya Perec yang

banyak disebut-sebut sebagai salah satu karya penting kaum Oulipian adalah

sebuah novel lipogram. Lipogram adalah teks di mana satu atau lebih aksara tidak

boleh dipakai. Novel Perec itu berjudul La Disparition, dan di dalamnya tak ada

satupun aksara e.

Mungkin anggota Oulipo yang paling terkenal adalah Italo Calvino, novelis Italia

yang ikut mengubah alam semesta menjadi sastra atau sastra menjadi alam semesta.

Karya Calvino yang menautkan dirinya ke kaum Oulipian adalah If on a winters

night a traveler. Perbedaan menonjol antara Calvino dan anggota lain Oulipo

adalah bahwa ia tahu kapan berhenti bermain-main dengan algoritme literer, dan

kapan membuat algoritme itu menyanyi dengan sendirinya. Bagi Calvino, tantangan

yang disungkupkan oleh algoritme dan aturan-aturan kombinatorial yang gila itu,

bukannya mencekik imajinasinya tapi justeru merangsangnya. Karena itulah,

Calvino, menurut cerita John Barth, menikmati tugas yang berat, seperti

mengarang sebuah cerita tanpa menggunakan kata-kata tentang penemuan tari.

Pentingnya algoritme dan berbagai tantangannya dalam merangsang penciptaan itu,

melahirkan berbagai "kembaran" Oulipo. Ada Oupeinpo yang menyatukan sejumlah

pelukis, ada Ouphopo untuk bidang fotografi, dan Oucipo untuk sinematografi.

Gagasan dasar yang sama menjalar ke bidang arsitektur, sejarah, tata boga,

musik, filologi sampai ke tipografi. Ringkasnya, algoritme tampaknya memang

merupakan unsur dasar dari segala jenis penciptaan, yang darinya segala sesuatu

mengalir dan terbentuk.

Api Penciptaan

Tetapi, semesta raya, seperti halnya sebuah novel besar atau sepotong musik yang

abadi, tidak hanya terdiri dari algoritme. Ia juga mengandung api. Jorge Luis

Borges benar ketika ia bercerita tentang sebuah ensiklopedi yang menjelaskan

rincian sebuah planet, lengkap dengan aljabar dan apinya (Tlon, Uqbar, Orbius

Tertius). Aljabar, atau algoritme, mewakili kecerdasan menyusun bentuk-bentuk

kompleks. Adapun api mewakili energi yang mampu mengubah sesuatu menjadi lain,

yang menghangatkan dan membakar. Api, di dalam musik misalnya, adalah sesuatu

yang menyebabkan waktu yang melintas menjadi "jalan di tempat", sehingga ketika

kita menyimak musik tersebut, (mencuri Octavio Paz) kita ikut naik ke semacam

immortalitas.

Melihat pola-pola kompleks yang dihasilkan oleh CA dalam buku Wolfarm, juga

pola-pola kompleks yang terbentang di alam, kita memang bisa terpukau, terseret

tanpa daya. Dan kian lama kita menatap pola-pola itu, kian kita terbius untuk

mencari apinya, sumber kekuatan yang menyebabkan "magis" itu muncul.

Tanpa wawasan sedikitpun tentang api di balik pola-pola kompleks itu, kita bisa

terseret dalam sejenis siksaan yang muncul bersama pengetahuan bahwa diri kita

berada di tengah samudera diskrit ruang waktu, dengan informasi dahsyat yang

terus membombardir tubuh. Semakin cepat kita memproses serbuan informasi itu,

semakin serbuan informasi itu menjadi seperti dentuman martil raksasa yang

bertubi-tubi menghantam kita ke dalam tembok besar realitas. Dan bagai paku

kecil, kita menjadi penyek dan mendekuk ke dalam tembok raksasa kefanaan itu,

dengan sejenis rasa tak berdaya, bahkan rasa hina.

Saat rasa lunglai dan nista yang bisa terbawa bertahun-tahun itu memuncak, dan

sebersit pengetahuan tentang api di balik bentuk-bentuk algoritme dan informasi

semesta hadir di kepala, tubuh bisa mendadak terasa berubah jadi buih. Dan

serbuan informasi dari luar adalah masukan yang ditampung dari luar. Tubuh

menjadi seperti buih sabun mungil yang ditiupkan seorang anak kecil ke arah

matahari, dan tiap serbuan informasi yang datang adalah sebuah supernova yang

meledak berantai dalam buih itu. Buih itu tak lagi mengambang pelan naik ke

immortalitas, tapi meledak tumbuh dengan kecepatan serupa cahaya, meluas

mengeram seluruh ruang waktu semesta, menerobos ke semacam state of mind dan

rasa "sakit" Sang Pencipta.

Nirwan Ahmad arsuka, Anggota Dewan Kurator Bentara Budaya Jakarta (BBJ)

Search :

Berita Lainnya :

•Foto: Patung Berselimut Kain

•Kepala Sekolah Dipilih Lewat Uji Kelayakan

•Ontologi Baru, Algoritme dan Api

•OTONOMI PENDIDIKAN

•Sajak-sajak

•Satu Cermin Balik Dunia Fotografi Kita

•Sekolah Kesulitan Mencari Tokoh Masyarakat

•Seni Grafis yang Tak Lagi Malu-malu

•Tim Penilai Guru Harus Diakreditasi

Design By KCM

Copyright © 2002 Harian KOMPAS

Share ing jaringan sosial


Similar:

Kisah Mengharukan Anak Kehilangan Tangan Karena Hukuman Orang Tuanya...

Setiap orang mempuai beberapa sifat diri mereka yang mereka tidak...

Cerita sukses orang-orang yang telah mengikuti program ini

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk

Kualitas Kurikulum "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan beliau"

Kalo kata orang tua dulu jadi orang harus panjang-panjang usus,,,ampun...

Ada sebuah cerita dari seseorang yang dipanggil sebagai konglomerat...

1. Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa...

Pada Saat Soeharto masih berkuasa dulu, semua orang

Lokasi keramaian, sisipkan di Motor/mobil yang puluhan ribu parkir...

Crita


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
c.kabeh-ngerti.com
.. Home