Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya


download 35.43 Kb.
jenengSeminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya
KoleksiDokumen
c.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Dokumen



YUDAS ISKARIOT

MENEMBUS DUA SISI DUNIA
Paper Kitab Suci


Disusun Oleh:

Fr. Thomas Abrian Rusmiyanto
Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya

2010

PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang dan Rumusan Masalah

Menjadi seorang murid yang baik hendaknya mempunyai sikap taat dan mau menjalani apa yang diperintahkan oleh sang guru. Segala hal yang pernah didapatkan oleh sang guru diberikan kepada muridnya tanpa pernah berpikir bahwa ia akan kehilangan sesuatu karena memberikan apa yang dimilikinya. Justru sang guru merasa bahagia saat muridnya dapat belajar dan menggunakan ilmunya untuk sesuatu yang lebih baik demi perkembangan hidupnya. Sebagai seorang murid hendaknya sikap ketaatan dan kesetiaan menjadi bagian dasar untuk mau berkembang. Martabat sang guru dijaga dan dijunjung tinggi dengan memberikan segala yang terbaik yang ada dalam dirinya.

Namun, adakalanya seorang murid merasa puas dengan apa yang telah didapatkannya dan lupa akan siapa yang memberikan segala yang telah ia peroleh. Dorongan niat atau nafsu yang tidak baik menguasai hidupnya dan membuat dirinya menjadi tidak optimal dalam menjalani tugasnya sebagai murid. Segala macam cara dipakai untuk memenuhi keinginan dari dalam dirinya, bahkan mengorbankan sang guru pun menjadi pilihan yang akan diambilnya. Mata dan hatinya telah dibutakan oleh keinginan pribadi yang menyesatkan. Hal ini pula yang dialami oleh Yudas Iskariot dalam kisah perjalanan Yesus dimana ia mengorbankan nyawa gurunya hanya demi mendapatkan uang.

Kisah kematian Yesus Kristus tidak dapat terlepas dari sisi kehidupan Yudas Iskariot. Dalam Injil disebutkan bahwa Yudas adalah seorang murid yang berkhianat terhadap gurunya dengan menyerahkan nyawa Yesus, sang Guru kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi dengan imbalan uang1. Yudas Iskariot menjadi sebuah ikon dalam sebuah drama kematian seorang penyelamat dan menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Yudas yang mengkhianati Yesus, gurunya seolah-olah menjadi bagian kelam bagi para pengikut Yesus yang kehilangan figur utama dalam perkembangan iman akan Allah. Disamping itu, rasa iri dalam diri para ahli Taurat dan orang Farisi membuat mereka mencari berbagai macam alasan untuk dapat membunuh Yesus. Maka, Yudas menjadi pilihan mereka karena sifat Yudas sendiri yang mudah digelapkan oleh hal duniawi, terkhusus dalam hal uang.

Dalam kehidupan selanjutnya diceritakan sebuah penyesalan dalam diri Yudas saat melihat bahwa Gurunya dijatuhi hukuman mati dalam palungan salib. Ia berusaha untuk mengembalikan uang yang didapatkannya, namun ditolak oleh ahli Taurat dan orang Farisi yang tidak mau bertanggungjawab akan darah orang yang disalibkan itu, yakni Yesus sendiri2. Pada akhir hidupnya dikisahkan bahwa Yudas meninggal dengan perut yang terbelah dengan seluruh isi perutnya yang berhamburan keluar3. Masih menjadi bagian yang samar atau belum jelas, apakah yang menjadi motivasi utama dalam diri Yudas, karena uang atau ada alasan yang lain?

Akhir-akhir ini dunia kembali digegerkan dengan ditemukannya manuskrip berjudul Injil Yudas yang memuat relasi antara Yesus dengan Yudas yang lebih mendalam. Injil Yudas memutarbalikkan segala yang tertulis dalam Kitab Suci dimana diceritakan bahwa Yudas adalah murid yang dikasihi-Nya dan hanya Yudaslah murid yang paling mengerti Yesus. Kematian Yesus di kayu salib pun diceritakan sebagai suatu tugas perutusan yang harus diembannya karena perintah dari Yesus sendiri untuk menggenapi apa yang telah menjadi rencana ilahi. Injil Yudas mengungkapkan kedekatan antara Yesus dengan Yudas secara lebih intim dan dapat dikatakan bahwa berkat jasa Yudaslah maka keselamatan itu ada.

Penulis merasa tertarik untuk mengulas sisi kehidupan Yudas Iskariot dengan membandingkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan Injil Yudas. Apa yang menjadi bahan pemilihan atau motivasi Yudas saat menyerahkan Yesus kepada ahli taurat dan orang-orang Farisi? Hal ini pula yang nantinya merujuk pada sebuah permenungan bagaimana menjadi seorang murid yang baik? Siapakah Yudas sebenarnya, seorang pengkhianat atau seorang penyelamat?


  1. TUJUAN PENULISAN

Paper ini setidaknya ingin mengajak para pembaca yang adalah umat beriman untuk berefleksi mengenai arti seorang murid. Kehidupan Yudas Iskariot menjadi salah satu bagian untuk memaknai arti kemuridan tersebut. Demikian pula sebuah refleksi bahwa kematian Yesus adalah karena cinta kasihNya kepada seluruh umat yang tiada berbatas. Pengalaman iman ini hendaknya juga dapat semakin mempertebal iman kita akan Yesus Kristus, Sang Gembala untuk semakin mempercayakan hidup padaNya. Yudas Iskariot secara tidak langsung telah mengajarkan kepada seluruh orang untuk tetap setia pada sang guru dan mau meninggalkan ambisi pribadi demi kepentingan bersama.

Dengan adanya karya ini, hendaknya pembaca tidak terpengaruh terhadap hal-hal yang baru yang menggugah iman dan tetap percaya akan penyelenggaraan ilahi. Semua yang ada menjadi sarana untuk semakin mempertebal iman dan juga menguji seberapa tebalkah iman kita akan Yesus. Yudas Iskariot menjadi sebuah batas untuk menjadi seorang murid yang setia dan mau berkorban sama seperti Yesus yang rela berkorban demi cinta kasih-Nya kepada umat yang dikasihi-Nya. Penulis juga memaparkan bagaimana dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya dan pula hidup orang lain senantiasa dilandasi oleh proses discerment, memohon bantuan rahmat Allah dalam mengambil keputusan.

MELIHAT LEBIH DALAM


  1. YUDAS ISKARIOT MENURUT KITAB SUCI

Yudas Iskariot adalah salah satu bilangan dari kedua belas rasul Tuhan yang berasal bukan dari daerah Galilea. Nama Iskariot berasal dari kata kerijot yang berarti daerah Yudea bagian selatan. Yudas terpilih untuk menjadi rasul-Nya dan memegang peranan penting sebagai pemegang kas para rasul4. Menjadi murid Yesus ternyata tidak menjadi jaminan dalam diri Yudas Iskariot untuk berubah menjadi seorang pribadi yang baik dan semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini terbukti melalui sikap dan tindakan Yudas yang mencuri uang kas para rasul (Yoh 12:6), mengecam pengurapan Yesus oleh seorang wanita dengan dalih memboroskan uang (Yoh. 12:4-5), terlebih lagi ia telah menyerahkan Gurunya sendiri demi mendapatkan uang 30 keping perak. Sisi kehidupan Yudas masih dipenuhi oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi, terkhusus dalam hal uang.

Yudas yang dipenuhi oleh iblis telah digelapkan hatinya5 dan tak mampu melihat terang yang dipancarkan oleh Yesus. Yudas menyerahkan Yesus kepada Ahli Taurat dan orang-orang Farisi untuk diadilidan akhirnya wafat di kayu salib. Itu semua dilakukan untuk mendapatkan uang yang menjadi pemuas dirinya. Ia merelakan semua yang telah didapatkan dari Yesus, kasih, cinta, dan kebersamaan di dalam Yesus untuk mendapatkan uang sejumlah 30 keping perak. Nyawa seseorang yang ia kasihi, ia hargai dengan uang dan bukan sebuah cinta layaknya seorang murid. Ciuman yang ia berikan kepada Yesus di taman Getsemani bukan menjadi sebuah wujud cinta kasih tetapi sebagai ciuman maut yang mengantar Yesus pada kematian di kayu salib. Kehidupan Yudas telah dipengaruhi oleh kegelapan akan hal-hal duniawi sehingga ia melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh banyak orang. Tindakan yang dilakukan juga tidak mencerminkan jati dirinya sebagai seorang murid Yesus.

Kekecewaan dan kesedihan yang mendalam karena telah menyerahkan orang yang tak berdosa yang adalah Gurunya sendiri terjadi saat ia mendengar bahwa Gurunya akan menerima hukuman di salib. Rasa sakit dan sedih menyadarkan hidupnya dan membawanya menuju ahli Taurat dan orang-orang Farisi guna mendapatkan Yesus kembali. Ia berkata, “Aku telah berdosa karena telah menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” (Mat. 27:4) Ia berusaha dengan cara mengembalikan uang yang telah didapatkannya. Namun, ahli Taurat tidak mau menerimanya dan berdalih bahwa itu semua adalah urusanmu sendiri sehingga Yudas melemparkan uang tersebut ke dalam bait suci dan pergi. Oleh para imam kepala, uang tersebut dipakai untuk membeli sebidang tanah yang disebut Tanah Darah atau Tanah Tukang Periuk guna menjadi tempat penguburan orang-orang asing.

Dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 1:18 bahwa akhir dari kehidupan Yudas berupa kematian dimana ia jatuh tertelungkup dan dengan perut yang terbelah sehingga isi perutnya tertumpah ke luar. Demikian akhir dari kehidupan Yudas yang dipenuhi oleh kuasa Roh Jahat dan keinginan untuk selalu memenuhi kebutuhan yang bersifat manusiawi. Posisinya sebagai rasul atau murid Yesus digantikan oleh Matias (Kis. 1:26).


  1. YUDAS ISKARIOT MENURUT INJIL YUDAS

Berbeda pandangan dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dimana Injil Yudas melihat Yudas Iskariot sebagai seorang murid yang terkasih dan dapat dikatakan sebagai seorang penyelamat. Injil Yudas yang ditemukan beberapa tahun terakhir ini oleh para ilmuwan membuat sebuah pandangan berbeda mengenai kehidupan Yudas. Dalam Injil ini disebutkan bahwa Yudas adalah murid yang mampu mengerti dan mengenal Yesus dengan baik. Dalam ayat 24-25, diceritakan bahwa Yesus berbicara secara pribadi mengenai kepergian Yesus menuju tempat Bapa yang ada di surga. Banyak dikisahkan dalam Injil Yudas mengenai kedekatan Yudas dengan Yesus dan disebutkan pula bahwa Yudas adalah murid yang kekasih.

Kematian Yesus merupakan pesan yang diberikan oleh Yesus sendiri kepada Yudas untuk menggenapi firman ilahi. Yesus tidak digambarkan seperti dalam Injil sebagai yang kini akan menanggung penderitaan sebagai akibat kesediaanNya mengabdikan diri untuk penyelamatan umat manusia, melainkan sebagai manusia yang mau melepaskan kemanusiaannya dari dalam diriNya. Oleh karenanya, Yesus memberikan tugas kepada Yudas Iskariot untuk melakukan hal itu dengan menyerahkan Yesus kepada ahli Taurat dan orang-orang Farisi guna tercapainya arah tersebut6.

Yudas Iskariot juga ditampilkan sebagai seorang pahlawan. Yudas memahami siapa Yesus sebenarnya dan melakukan tugas yang diserahkan kepadanya dengan penuh kesadaran bahwa dia melakukan sesuatu yang diminta oleh Yesus sendiri. Buku yang dikarang Rodolphe Kasser bersama dengan kawan-kawannya menjelaskan bahwa jika tidak ada Yudas Iskariot yang menyerahkan Yesus, maka keselamatan yang akan datang dari Yesus tidak akan pernah terjadi. Injil Yudas seakan-akan membuat Yudas Iskariot sebagai sebuah “kunci” dari proses karya keselamatan Allah.


  1. MENJADI SEORANG MURID

Seorang murid hendaknya menjalankan segala nasehat yang diberikan oleh sang guru kepadanya, terlebih lagi ia harus mengasihi gurunya yang telah memberikan yang terbaik bagi perkembangan hidupnya. Seorang guru akan memberikan apa yang dimiliki kepada muridnya dan akan merasa bahagia apabila murid tersebut menjadi seorang pribadi yang berkembang bahkan melebihi sang guru. Sang guru akan selalu bersabar melatihkan ilmunya dan akan selalu hadir untuk membantu muridnya untuk terus bertumbuh dan berkembang.

Namun, dari itu semua pengkhianatan adalah racun yang mengganjal. Pengkhianatan Yudas kepada Yesus menjadikan dirinya masih dipenuhi oleh keinginan untuk selalu memenuhi kebutuhan daging. Yudas tidak mampu melepas kebiasaan buruknya yang mudah jatuh dalam dosa. Ia mudah terjatuh saat berhadapan dengan uang, dimana ia mencuri uang kas para rasul yang dipegangnya dan pula menyerahkan Yesus, Gurunya sendiri untuk mendapatkan uang sejumlah 30 keping perak.

Tugas seorang murid adalah belajar. Tidaklah mudah untuk menjadi seorang murid yang baik, mengikuti Tuhan dengan lepas bebas, mampu meninggalkan kebiasaan yang tidak baik. Yudas Iskariot menjadi sebuah tembok yang perlu dilampaui. Tembok itu dapat dilalui jika ia mau melepas semua beban yang dipanggulnya dan senantiasa berserah kepada Tuhan. Seorang murid akan mampu terbang dengan bebas dan menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan.


  1. DISCERMENT

Dalam hidup ini akan selalu ada suatu saat dimana seseorang harus memilih dan memutuskan apa yang harus ia lakukan demi perkembangan hidupnya. Akan ada banyak pilihan dengan segala konsekuensinya yang harus dijalani. Oleh karena banyaknya pilihan itu, seseorang harus mengambil sikap discerment dengan memohon bantuan rahmat Tuhan sehingga pilihan yang diambil sungguh dapat bermanfaat bagi hidup saat ini dan hari esok. Demikian pula, setiap keputusan yang diambil hendaknya dilandasi oleh motivasi yang murni, yakni untuk semakin memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya7.

Yudas dalam kehidupannya juga dihadapkan pada sebuah pilihan, menjadi seorang murid Yesus yang setia mengabarkan kabar sukacita atau menyerahkan Yesus demi mendapatkan sejumlah uang 30 keping perak.

Dalam hidup ini banyak orang mudah tergoda oleh uang. Banyak orang yang mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan bagi mereka yang mempunyai kekuasaan dapat melakukan banyak hal dengan uang yang dimilikinya. Uang bisa menjadi kelekatan sehingga banyak orang di dunia berusaha untuk mendapatkan uang demi hidup mereka, bahkan ada yang dengan menggunakan cara-cara yang di luar batas normal. Demikian pula, dalam Kitab Suci dimana Yudas yang digelapkan oleh uang sehingga ia mengambil uang kas yang dipercayakan kepadanya dan pula menyerahkan Yesus demi mendapatkan uang 30 keping perak. Kekecewaan mengenai cara Yesus memahami diriNya yang mana Yesus yang adalah Mesias juga diibaratkan sebagai seorang politis yang mampu memimpin dan bahkan menjadi raja atas bangsa Israel. Diceritakan pula dalam Kitab Suci sebuah nubuat yang tertulis dalam Yoh 13:188 dan Yoh 17:129. Dalam Kitab Suci dipaparkan bahwa Yudas melakukan itu semua demi mendapatkan uang.

Tujuan yang didasari oleh motivasi yang tidak baik akan membawa pada cara dan hasil yang tidak baik pula. Dalam setiap pengambilan keputusan hendaknya selalu berada dalam situasi yang tenang, membawa semua dalam doa, berpikir secara bebas, mempunyai gerak hati untuk mampu menangkap pesan Tuhan. Proses ini juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit sehingga diperlukan kesabaran supaya tidak terjadi pemaksaan kehendak atau kesalahan dalam pengambilan keputusan. Keterbukaan akan bantuan Allah menjadi penting sehingga pribadi tersebut mampu melihat gerak hati, dapat mengambil keputusan dengan baik dan menjalani apa yang telah diambilnya dengan penuh bahagia tanpa ada tekanan. Hendaknya setiap pribadi selalu mengadakan proses discerment dalam mengambil keputusan yang begitu penting dan yang menyangkut jalan hidup seseorang sehingga nantinya tidak ada kata menyesal.

KESIMPULAN - REFLEKSI

Yudas Iskariot adalah seorang murid Yesus yang di dalam dirinya masih dipenuhi oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan daging, terkhusus dalam hal uang. Kebutuhan itu membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari jalan yang benar, seperti mencuri uang kas yang dipegangnya dan menyerahkan Yesus demi mendapatkan 30 keping perak. Ia belum mampu menguasai dirinya dan hidupnya masih dipengaruhi oleh kuasa roh jahat yang membawanya pada pengambilan tindakan yang menyimpang. Semua yang telah terjadi tidak dapat dirubah dan ia harus menghadapi semuanya itu. Sebagai konsekuensinya ia harus kehilangan orang yang dikasihinya dan meninggal dengan tidak layak di atas tanah yang dibelinya dengan uang hasil penyerahan Yesus kepada orang Farisi dan ahli Taurat.

Yudas dalam Kitab Suci mempunyai pandangan yang berbeda dengan apa yang tertulis dalam Injil Yudas. Kitab Suci menceritakan Yudas yang telah dirasuki oleh iblis dan menyerahkan Yesus demi 30 keping perak. Berbanding terbalik dengan Injil Yudas yang memaparkan Yudas sebagai seorang pribadi yang melakukan semuanya itu adalah karena perintah dari Yesus sendiri supaya genaplah apa yang telah menjadi firman ilahi. Hal ini menuntut kita untuk semakin mengimani Yesus dengan sepenuh hati serta mencintai Kitab Suci sebagai sumber kebahagiaan. Adanya Injil-Injil yang ditemukan akhir-akhir ini hendaknya tidak mengubah pandangan kita dan tetap pada pendirian awal akan Yesus yang hadir dan mewartakan kabar gembira.

Mengikuti Tuhan dan menjadi muridNya dengan penuh kesetiaan dan dengan penuh kebebasan menjalankan setiap perintah yang diberikan olehNya. Setidaknya Yudas menjadi sebuah tonggak peringatan bagi kita untuk semakin beriman kepada Tuhan dengan tidak menduakan dengan motivasi lain yang membuat hidup kita menjadi tidak bebas.

Setiap kehidupan akan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan, dan setiap pilihan yang kita ambil hendaknya dilandasi dengan motivasi yang murni dan mengingat pada tujuan hidup kita. Diperlukan suatu proses diskresi untuk menentukan, menimbang, dan memutuskan mana yang baik bagi hidup kita serta memasrahkan semuanya kepada Tuhan yang telah memberikan hidup kepada kita. Memberikan yang terbaik bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain.

Menjadi seorang murid hendaknya mengasihi sang guru dengan penuh cinta karena dari tangan sang gurulah lahirlah segala hal yang berguna bagi hidup sang murid. Mencintai bisa melalui banyak hal, bahkan melalui tindakan-tindakan yang sederhana yang dilakukan setiap harinya. Alangkah bahagia sang guru saat mengetahui anak didiknya berkembang dengan baik, bahkan melebihi sang guru sendiri. Hal ini menjadi sebuah proses belajar untuk semakin menjadikan Yesus sebagai teladan hidup.

Yudas adalah salah satu bagian dari murid Yesus yang telah meninggalkan luka dengan menyerahkan Yesus pada ahli Taurat dan orang Farisi. Dapat dikatakan bahwa Yudas telah mengkhianati kasih yang diberikan oleh Yesus kepadanya. Semua dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersifat manusiawi. Menjadi murid Yesus hendaknya mampu melepas segala yang mengikat dan senantiasa berserah kepada penyelenggaraan ilahi karena Yesus akan selalu memberikan yang terbaik kepada orang yang beriman kepadaNya dengan sepenuh hati. Melalui penyusunan paper ini, setidaknya penulis belajar untuk semakin mencintai Kitab Suci, beriman kepada Tuhan dengan sepenuh hati serta selalu memasrahkan diri kepada Tuhan Sang Juru Selamat dengan penuh kebebasan. Penulis juga belajar untuk mau melepas semua beban yang masih mengikat sehingga mampu mengikuti Tuhan dengan penuh kebahagiaan dan kebebasan. Hidup adalah pilihan yang bertanggungjawab yang menentukan langkah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Heuken, A. SJ. 2006. Ensiklopedi Gereja Jilid 9. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Karya.

  • Leks, Stefan. 1993. Yesus Kristus menurut keempat Injil Jilid 7. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  • Kasser, Rodolphe. dkk. 2006. The Gospel of Judas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



1 Bdk. Mrk. 14 : 10 - 11

2 Bdk. Mat. 27 : 3

3 Bdk. Kis. 1 : 18

4 Yoh 12 : 6

5 Luk. 22 : 3

6 Injil Yudas. Hal. xiv-xv

7 LR. 23 tentang Asas dan Dasar.

8 “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.

9 “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.


Share ing jaringan sosial


Similar:

Daftar harga buku rohani

Paragraf di atas termasuk orientasi karena

Abstrak, orientasi, resolusi, komplikasi,evaluasi, koda

Dengan tema Sehat Jasmani dan Rohani, hari masih gelap, masih jam...

Keira (17 tahun) merupakan penggemar berat seorang artis yang sedang...

Ulangan akhir tahun kelas 6 tahun 200 -200

Try out ujian nasional tahun 2011/2012

Selama sembilan tahun selepas perlantikan

Perumahan dan permukiman II tahun 2009

Edisi Tahun I no. 001 Bulan Februari 2010

Crita


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
c.kabeh-ngerti.com
.. Home